Tahapan Pemotongan Nilai Rupiah














Bank Indonesia (BI) telah menyiapkan tahapan-tahapan penyederhanaan nilai mata uang rupiah atau redenominasi, namun bukan sanering. Proses penyederhanaan nilai mata uang rupiah itu akan dilakukan mulai 2011-2020


Jika diartikan secara sederhana, menurut Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution, di Jakarta, Selasa 3 Agustus 2010, redenominasi berarti penyederhanaan penyebutan satuan harga maupun nilai mata uang.
Maksudnya, pecahan mata uang disederhanakan tanpa mengurangi nilai dari uang. Nilai mata uang tetap sama meski angka nolnya berkurang. Misalnya, Rp1.000 menjadi Rp1, sedangkan Rp1 juta menjadi Rp1.000.
Berikut ini tahapan pemberlakuan penyederhanaan nilai mata uang rupiah itu:
2011-2012 Masa Sosialisasi
Masa menyiapkan berbagai macam hal seperti menyangkut akuntansi, pencatatan, sistem informasi. Bank Indonesia meyakini waktu dua tahun cukup untuk masa sosialisasi.

2013-2015 Masa Transisi
Dalam masa ini, nantinya harga barang akan ditulis dalam dua harga yaitu terdiri atas rupiah lama dan rupiah baru. Misalnya, barang seharga Rp10.000 akan ditulis dalam dua harga yaitu Rp10.000 dan Rp10 (baru). Uang saat ini akan disebut rupiah lama, yang baru akan disebut rupiah baru.

Selama masa ini, masyarakat akan menggunakan dua mata uang yaitu rupiah lama dan rupiah baru. Begitu juga untuk pengembalian uang, boleh menggunakan keduanya. BI juga akan perlahan-lahan mengganti uang rusak rupiah lama dengan uang rupiah baru.

2016-2018
Uang kertas sekarang (rupiah lama) akan benar-benar habis. BI akan melakukan penarikan uang lama.

2019-2020
Kata-kata uang baru yang menandakan pengganti uang lama akan dihilangkan. Indonesia kembali pada rupiah seperti saat ini, namun nilai uangnya lebih kecil. Untuk mata uang kecil berlaku uang koin dan nilai pecahan sen akan berlaku lagi.
Sebelumnya, BI menganggap uang pecahan yang cukup besar memang kurang efisien. Masalahnya, uang besar justru membuat proses pembayaran dan transaksi tunai menjadi lebih susah.
Jadi, BI menekankan redenominasi berbeda dengan sanering atau pemotongan uang. BI menekankan sanering selalu dilakukan oleh suatu negara dalam kondisi ekonomi tidak stabil.
Itu bisa dalam situasi inflasi tinggi, sehingga nilai mata uangnya dan daya beli merosot dengan cepat. Karenanya, perlu dilakukan pemotongan nilai uang atau senering.
“Nah, ini sama sekali bertolak belakang, redenominasi dilakukan dalam kondisi perekonomian sedang stabil, artinya perekonomian tumbuh dan inflasi terkendali,” kata Darmin.

sumber vivanews.com

Read more


TAIWAN: RI Masuk 6 Negara Potensial Dunia















Menteri Ekonomi Taiwan Yen-Shiang Shih menilai ekonomi Indonesia merupakan salah satu dari enam negara berkembang paling potensial di dunia. Ada lima faktor, kenapa ekonomi Indonesia dapat lebih maju dibandingkan negara lain. "Pertumbuhan rata-rata GDP Indonesia pada 2008 dan 2009 di urutan ke-2 di Asia Tenggara. Beberapa investor memasukkan Indonesia dalam B-R-I-C (Brazil, Russia, India, China) menjadi B-R-I-I-C (Brasil, Rusia, India, Indonesia, dan China). Bahkan, Goldman Sach menempatkan Indonesia sebagai anggota N-11," ujar Yen Shiang Shih di Jakarta, Kamis 30 September 2010. Dalam opini personal Yen, kemajuan Indonesia karena lima faktor. Faktor pertama, menurut Yen adalah Indonesia memiliki pasar domestik dengan tingkat ketergantungan di skala rendah. Level ketergantungan perdagangan Indonesia hanya 38 persen dan level ketergantungan dari segi ekspor hanya 22 persen. Faktor kedua adalah inflasi. Inflasi rendah sebagaimana peringkat bunga. Menurut laporan penelitian Nelson Research, Indonesia berada di peringkat atas pada indeks tingkat kepercayaan konsumen dunia. Faktor ketiga adalah populasi. Orang-orang di bawah umur 24 tahun telah mencapai 44,3 persen dari total populasi dan umur rata-rata hanya 27 tahun. Populasi Indonesia berada dalam kelompok produktif. Faktor keeempat menurut Yen adalah kayanya Indonesia akan sumber daya alami seperti minyak, gas alami, batu bara, karet, dan lain sebagainya.

Kelima, pemerintahan yang agresif. Pemerintahan sekarang adalah yang paling agresif sejak kemerdekaan Indonesia tahun 1945.

"Indonesia merupakan prospek brilian untuk investasi dan kunjungan 107 perusahaan Taiwan mengunjungi Indonesia untuk mencari kerja sama yang menguntungkan di bidang perdagangan dan investasi kedua negara," ujarnya.

sumber vivanews.com

Read more

Powered By Blogger

Mengenai Saya

free counters

Pages

Pengikut

Web hosting for webmasters